about me

Senin, 14 November 2011

“Socking Soda” SARJANA MUDA


Asalamualaikum dear…..
Setelah pulang ke rumah aku merasa kebingungan harus mulai dari mana. Orang tuaku begitu gembira karena aku pulang dengan gelarku, benar kata mereka teman-temanku kata SARJANA itu obat yang sangat luar biasa buat mereka. Dan untuk ayahku aku sudah menyiapkan satu buah hadiah khusus untuknya yaitu lagu RHOMA IRAMA yang sudah kukumpulkan jauh-jauh hari dari teman-temanku, koleksianku atau yang sudah kuminta dari MBAH GOOGLE. Lagu-lagu itu kuburning ke CD lalu kuserahkan padanya. Ia begitu terkejut dan gembira ketika ia mendengarkan lagu kesukaanya
berkumandang yang jumlahnya tentu saja ratusan yang mungkin ini bisa menyita waktu kerjanya. Ia bertanya padaku “ darimana ini banyak sekali?dari laptop ya?” tanyanya sambil mencoba mengangguk-anggukkan kepalanya mencoba menikmati, bapakku selalu berpikir bahwa laptop adalah sejenis alat elektronik yang sudah tersedia di dalamnya berbagai fasilitas dan lagu-lagu yang lengkap. Aku jawab itu hasil dari download di internet, hah mana mengerti beliau internet, kata “internet” saja mungkin baru mendengarnya. “internet? Apa itu? ternyata ada alat yang lebih canggih dari laptop ya?” Tuh kan dia  Pikirinternet hadware, bagaimana aku menerangkan ini padanya? Lantas aku menjelaskan kalau internet itu suatu alat untuk mencari berbagai informasi cara kerjanya mirip seperti menggunakan Henpon miliknya, kenapa nomor kita bisa terhubung dengan nomor orang lain itu karena adanya signal dan adanya pulsa, jadi internet juga seperti itu mesti ada modem dan juga pulsa yang bisa diterapkan ke leptopku untuk mendownload semua lagu.
Dear …
Untuk mendapatkan pekerjaan di kampungku sudah marak dengan istilah harus memakai D3. Ini bukan diploma tapi artinya katanya “duit, deket, dukun”, dan ini sudah begitu kental di masyarakatku” bukan hal yang aneh lagi” alhasil ketika aku mau melamar pekerjaanpun mereka bilang “kau tidak mungkin bisa menjadi guru jika hanya modal melamar saja sendiri, tanpa uang atau orang dalam” aku tidak mau mengakuinya bagaimanapun 4 tahun selama menjadi mahasiswa aku tidak pernah menjadi orang yang seperti itu, mengandalkan kemampuan orang lain dalam meraih nilai, meraih nilai dengan berusaha mendekati dosen atau menjilat prody, tidak! Itu tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Semua orang berhasil karena usahanya dan campur tangan tuhan yang di atas. Dan aku sebenarnya kalau mau bisa saja mendapatkan semua pekerjaan ku dengan menggunakan kerabat-kerabat ibuku,(kerabat ibuku hampir semuanya orang atas, mereka semua menawari untuk bekerja di sekolahnya tapi aku tak sudi mau di taruh dimana ini mukaku)Tapi ketika aku bertanya sana-sini mencari lowongan setengah putus asa akhirnya mau tidak mau aku harus mengakui, D3 itu obat yang sangat MUJARAB untuk sarjana muda seperti ku ini. Bahkan ada yang sekolah itu semuanya kaum kerabatnya, itu sekolah masih system kerajaan rupanya bukan republik lagi. Ini bukan lelucon dear, kenyataan di lapangan sebenarnya membuatku sangat “socking soda”. Dan yang lebih menggemaskan lagi ada seseorang yang saudaranya itu kerjanya di pemerintahan nah semua kaum kerabatnya itu di pegawai negeri sipilkan, dan mereka sendiri yang menggembor-gemborkan semua kejelekannya itu pada masyarakat seakan-akan mereka bangga dengan hasilnya. Jabatan pegawai negeri sipil (PNS) sudah diperjualbelikan dear, kasihan sekali pemerintah, pemerintah berupaya mengangkat pegawai negeri sipil itu dengan melalui tes, supaya pendidikan di negeri ini meningkat setidaknya setara dengan negeri-negeri lain. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Tes itu hanyalah sekedar kedok, siapa yang menang siapa yang diangkat? Mungkin mang benar ada yang jujur melakukannya tapi jika dibandingkan dengan yang tidak jujurnya bagaikan seribu satu. Dan apa artinya itu, orang jujur bagaikan buih di tengah lautan tak terlihat sama sekali. Karena upaya pemerintah itu juga sekarang guru bukan berusaha saling cepat meningkatkan pendidikan tapi malah saling cepat menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan PNS supaya mendapatkan kehidupan yang layak. Di masyarakat bahkan ada istilah seperti ini “tidak apa-apa menjual harta benda sekalipun untuk menyogok menjadi PNS, toh nanti juga uang kembali lagi” mending sekaligus menjadi PNS kalau tidak bagaimana?padahal harta semua sudah habis. Tapi ada lagi yang bilang seseorang padaku yang sudah jadi PNS tapi ia adalah salah satu yang jujur dalam mendapatkan jabatan itu. “ia bilang untuk apa meh mau menjadi PNS? Saya juga nyesel sudah jadi PNS pengen keluar” ini pernyataan menggelikan bukan, orang lain berlari untuk mendapatkannya tapi ia sendiri malah ingin keluar dari lingkaran itu. Selidik punya selidik ternyata ia di kantornya tidak betah lagi karena terlalu banyaknya manipulasi yang harus ia kerjakan padahal itu sangat bertentangan dengan hatinya. Itu yang selama ini membuatnya tidak nyaman.hmm…jadi bukan waktu mendapatkannya saja rupanya banyak kebohongan tapi waktu sudah menjadi PNS juga tidak bisa menghindar dari semua itu.
Lantas siapa yang paling merasa di rugikan dalam hal ini dear? Menurut saya tentu saja siswa-siswa di sekolah. Kok bisa?  Bisalah….mereka yang paling banyak menjadi korban dari permainan ini, mereka di ajar oleh guru yang yang tentu saja mungkin tidak kompeten.guru yang suka meninggalkan kelas dan sebagainya. suka atau tidak suka .rela atau tidak rela begitulah kenyataan yang terjadi di lapangan.indonesia  ya gitu dehh.....harus terus melawan lupa. sebenanrnya menurutku semua prilaku di mulai dari sekolah. mari kita menata diri kita kembali mulai dari diri sendiri, sehingga kita bisa menjadi bangsa yang mulya dan di mulyakan orang. amin
14/11/2011
"Pendidikan adalah hak semua orang"

BANGSAKU…TERNYATA SEPENUHNYA BELUM MERDEKA


Assalamualaikum dear……….
Setelah kudapatkan gelar sarjana aku pun pulang ke kampong halamanku, kau tahu aku merasa sedih sekali bila kulihat jalan-jalan itu. Karena mungkin aku tidak akan melaluinya lagi, ini yang terakhir aku ada di mobil ini begitu pikirku, dan ada yang selalu mengusikku tiap aku pergi ke bandung, atau aku pulang dari bandung…jalanan itu, penuh dengan berbagai macam orang, anak-anak, orang tua,
pengemis, gelandangan, pengamen, orang miskin, kaya, semuanya ada benar kata Andrea Hirata “jika kita ingin melihat seni yang sebenarnya kita bisa melihatnya di jalanan”. Ada hal yang selalu mengusikku, pengamen itu, empat tahun aku bolak balik bandung- sukabumi jadi aku hapal sekali mana pengamen yang suaranya merdu atau biasa saja, dan diantara mereka adalah anak-anak kecil, bahkan anak kecil yang ngomongnya saja belum bisa, apalagi menyanyi. Hidup memang keras! Tapi hatiku tersentak tiap kali melihat mereka, hati sarjana pendidikanku begitu tersinggung melihat mereka. Aku, aku guru negeri ini sekarang dan di depanku adalah anak-anak kecil yang butuh sekali pendidikan, mungkin seharusnya mereka ada di bangku sekolah berkutat dengan buku-bukunya tapi ini malah berkeliaran naik bis satu dengan yang lainnya.di mana undang-undang yang mengatakan bahwa pendidikan itu hak semua orang? Mungkin pemerintah sebelumnya sudah menangani para pengamen ini, tapi benarkah? Jika benar kenapa selama 4 tahun mereka masih bernasib sama dan mengamen di bisku. Aku berpikir mungkin saja diantara anak-anak itu ada yang di takdirkan menjadi orang nomor satu negeri ini atau menjadi pemimpin negeri ini, bagaimana mungkin seorang pemimpin negeri ini? Ini membuatku sangat kesal dan sedih. Aku merasa sedih karena ketidakberdayaanku.
Dear…..
Bangsa ini sudah merdeka puluhan tahun yang lalu, tapi apa sebenarnya arti kemerdekaan itu sendiri?bangsa ini belum merdeka…aku tahu pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kebodohan, kemiskinan belum sembuh dan masih menjadi borok negeri ini yang terus-terusan menggrogoti….,MARI KITA BERJUANG BERSAMA LUKA ITU.
Dalam perjalanan pulang
2/9/2011
“Mari kita belajar”