about me

Rabu, 15 Juni 2011

Cepat Sembuh Ibu


Assalamualaikum dear…
Hari ni saya dan anak-anak nengok dosen pembimbing ke satu ke rumah sakit Hasan Sadikin. Ya allah saya sedih banget waktu pertama kali masuk ke ruangannya, dengan wajah yang begitu kesakitan beliau minta maaf sama saya karena gara-gara beliau sakit, beliau tidak bisa membimbing kami. Dan lebih sedih lagi waktu nanya gimana skripsinya sudah nyampe mana katanya, anak-anak menjawab ibu gak usah mikirin dulu skripsi kami, ibu sembuh dulu gpp ka nada dosen pembimbing dua kata nak-nak the, saya sedih karena dosen pembimbing dua saya juga gak bisa membimbing karena melahirkan.jadinya pengen nangis beneran.
Ibu bercerita banyak pada kami, tentang penyakitnya yang sudah tiga minggu masuk rumah sakit baru ketemu hari selasa kalau penyakitnya TBC perut, ya ampun…! Tiga minggu ibu menanggung penderitaan ketidakjelasan membuat saya sadar, kalau apa yang saya rasakan selama ini menunggu ketidakjelasan juga tidaklah sebanding dengan penderitaan ibunda saya ini. Beliau harus ruku 4 jam, terus harus tidak gerak sedikitpun 6 jam ya allah sampai segitunya.
Beliau berpesan untuk selalu semangat dan jangan malas mengerjakan skripsi biar cepat lulus dan dapat ijasah katanya, aku pengen nangis. Dalam keadaan begitu seharusnya kami yang menghibur ibu, tapi ibu tahu hati kami saat ini, terutama saya bahwa semangat saya hanya tinggal serpihan.
Acara berkunjung Cuma berlangsung 30 menit dan kamipun berpamitan, tak lupa kami membaca doa dulu untuk kesembuhan ibunda kami,kami menghayati doa kami masing-masing dalam kesedihan yang hanya di nikmati oleh kami masing-masing, saya berusaha menahan tangisan saya, meski dalam berdoa dianjurkan sekali untuk menangis tapi saat itu saya tidak ingin kelihatan sedih dihadapan ibu, saya ingin terlihat tegar menjalani semuanya walau hati saya mengatakan saya tidak bisa. Dan tiba-tiba perasaan saya menjelma kalau ibu yang dihadapan saya ini terlihat seperti ibu kandung saya sendiri, ini benar-benar membuat hati saya sangat pilu.Diam-diam saya berucap pada tuhan” ya tuhan saya benar-benr mencintai wanita di hadapan Saya ini, bukan karena beliau sebagai syarat kelulusan saya nanti, tapi karena saya benar-benar sangat membutuhkan beliau hadir di tengah-tengah kami, tapi karena saya benar-benar sangat mencintai wanita ini, saya mohon sembuhkanlah ibu saya ini” saya lihat ibu menangis sedih dan saya ingat ibu kandung saya di rumah, bagaimana ketika ibu saya sakit waktu kehamilannya terjadi di luar rahim. Ini membuat saya tidak tahan untuk meneteskan airmata. Dan ketika kami pamitan pulang bersalaman ibu mengucapkan doa pada kami masing-masing, dan ketika bagian saya yang terakhir saya tidak bisa menatap matanya.tidak. beliau mengucap nama saya, itu benar-benar membuat saya tidak bisa lagi menahan airmata terlalu lama.
Saya ingat waktu pertama kali saya sama anak-anak belajar sama ibu, beliau satu-satunya dosen yang waktu berkenalan itu menyuruh saya dan teman-teman untuk menuliskan dan menggambarkan salah satu moment yang paling disukai atau menggambarkan orang yang paling berharga di dunia ini atau menggambarkan sebuah benda atau apa saja yang sangat di sukai beserta alasannya. Waktu itu saya menggambar bunga dan buku sebagai benda kesayangan atau kesukaan saya. Ibu menanyakan alasannya saya jawab “saya suka buku karena bukulah satu-satunya teman yang menemani saya ketika saya down, broken home merasa terasing dari keluarga,dari teman. Hanya bukulah waktu itu yang menemani saya, tempat saya mengadu, tempat saya mencari pelampiasan dari semua kekecewaan saya terhdap orang tua.Dan saya suka bunga karena bunga itu selalu terlihat indah, selalu dijadikan lambang untuk kesedihan seperti kematian, selalu dijadikan lambang untuk kegembiraan seperti pernikahan. Bunga itu terlihat seolah olah netral kemana saja” dan ibu menganggukan kepala.
Meski ibu itu terlihat galak oleh sebagian mahasiswa, tapi sebenarnya bukan galak hanya disiplinnya tinggi dan ia mampu untuk konsisten, misalnya dulu waktu masih kuliah bersamanya, masuk perkuliahan misal pukul 07.50 maka ibu biasanya pukul 06.20 itu sudah ada di kelas,hadir duluan selalu begitu. Hari pertama perkuliahan itu ibu biasanya membuat perjanjian dengan kita muridnya mau jam berapa masuk, anak yang telat mau gimana, dan ia konsisten dengan perjanjian itu. Ia tidak pernah meninggalkan kelas tanpa alas an yang jelas atau tanpa asisten di kelas, dan anak-anak selalu protes kalau ada asisten yang mengganti soalnya ibu memiliki cara tersendiri dalam mengajar yang disukai anak-anak. Jam terbang ibu subhanallah padat banget bahkan dulu saya pernah berpikir sebenanya wanita seperti apa ibu itu, wonderwomenkah? Kemarin sore di telpon lagi di Maluku misalnya sekarang pagi jam 7 sudah ada dihadapan. Benar-benar kuat dan tahan banting. Kalau orang lain tidak mungkin kayak gitu pasti berleha-leha dulu karena cape. Ibu itu seorang pribadi yang hangat dan tahu sekali psikologi masing-masing anak menurut saya, contohnya seperti ini saya sering sekali memperhatikan ibu masalahnya. Waktu itu kita belajar di lab, dan kelompok saya duduk di meja ketiga, salah satu teman kelompok saya enung sedikit bermasalah dengan matanya, kami di bagi acak posisi meja, dan kelompok saya tuh seharusnya kebagian di meja belakang. Enung teman saya itu minta sama ibu kalau ia pengen di depan, karena matanya tidak bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas kalau dari meja paling belakang, ibu ngotot tidak mau memindahkan kami karena itu ketentuan, tapi ketika waktu pembagian eh tanpa di sangka kelompok kami jadi kebagian yang di depan. Sikapnya benar-benar tak bisa di tebak. Contoh kedua waktu itu kita bimbingan KRS, ada teman saya yang benar-benar jeblok IPknya dan saya sendiripun jujur tidak menyangkal kalau jeblok IPKnya itu bukan karena dia tidak pintar tapi dia benar-benar terlihat tidak sungguh-sungguh kuliahnya. Tapi sikap ibu bukannya memarahi (kalau dosen lain sudah marah liat murid bimbingannya ipknya kecil), ia mempunyai caranya sendiri sampai-sampai saya saya terpaku melihatnya, ia tidak memojokkan si anak itu, bahkan tidak pernah menyalahkan, tapi dengan cara begitu anak itu jadi termotivasi sampai saat ni ia rajin sekali kuliah dan memperbaiki kuliah-kuliahnya yang tertunda. Pengalaman saya sendiri ketika IPK saya jeblok, ibu nanya sama saya “kenapa IPKnya bisa dua gini, udah punya pacar ya sekarangmh?”
Menurut saya banyak hal yang luar biasa dari sosoknya sebagai dosen, bukan sekedar guru di kelas tapi juga bisa sebagai orang tua kami. Beliau jika anak muridnya gagal dalam mata kuliahnya tidak pernah menyalahkan kami, tapi ia akan menyalahkan dirinya sendiri”bukan kalian yang salah tidak rajin belajar tapi ibu yang salah tidak mengajar dengan benar” katanya selalu begitu. Dengan berkata begitu cukup bagi saya dan kawan-kawan menyesal kenapa tidak memperhatikan beliau dengan benar waktu mengajar hehe….






Untuk ibu yunita denganmu sebagai lampion penerangku, hidupku tidak akan pernah bagai sungai kelam. Cepat sembuh ya bu, saya membutuhkan ibu hadir kembali di tengah-tengah kami.





Bdg, 15 juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar